Polusi Udara dan Kesehatan Mental

Polusi Udara dan Kesehatan Mental

Salah satu artikel di situs ini, "Polusi Udara Mengganggu Tidur Kita" telah membahas tentang pengaruh buruk polusi udara terhadap kualitas tidur, yang merupakan hasil kajian tim peneliti Universitas Washington, Amerika Serikat.  Belum lama ini, tim lain dari universitas yang sama mempublikasikan hasil penelitian yang juga terkait dengan polusi udara, yakni bahwa polusi udara mempengaruhi kesehatan mental. Penelitian tersebut menemukan fakta bahwa orang-orang yang tinggal di sebuah wilayah dengan tingkat polusi udara yang tinggi juga mengalami tekanan psikologis yang lebih tinggi.

Hubungan antara polusi udara dan sistem pernapasan manusia tidak banyak diperdebatkan. Penelitian menunjukkan bahwa udara kotor dapat mengganggu pernapasan dan memperparah penyakit paru-paru. Efek potensial lain dari polusi udara juga sedang diteliti; para ilmuwan saat ini tengah berupaya menemukan hubungan antara udara yang kotor dan beracun dengan obesitas, diabetes dan demensia.

Ternyata, berbagai pengaruh buruk di atas masih harus ditambah dengan satu hal lagi, yakni tekanan psikologis. Tim peneliti yang terdiri dari Victoria Sass (ketua tim, mahasiswa doktoral di Departemen Sosiologi Universitas Washington); Anjum Hajat, asisten profesor epidemiologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Universitas Washington (School of Public Health University of Washington); profesor Kyle Crowder dan mahasiswa pascasarjana Steven Karceski, keduanya dari Departemen Sosiologi Universitas Washington; Nicole Kravitz-Wirtz dari University of California, Davis School of Medicine; dan David Takeuchi dari Sekolah Kerja Sosial Boston College (Boston College School of Social Work); menemukan bahwa semakin tinggi tingkat partikulat di udara, semakin besar pula dampaknya pada kesehatan mental.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Health & Place edisi November ini diyakini merupakan penelitian pertama dengan data responden yang merupakan perwakilan populasi secara nasional. Data primer tersebut kemudian disandingkan dengan data polusi di area tempat tinggal setiap responden untuk dilakukan referensi silang dalam rangka mengevaluasi hubungan antara udara yang beracun dengan kesehatan mental. "Penelitian ini benar-benar menunjukkan bahwa antara polusi udara dan kesehatan mental bisa ditarik sebuah garis lurus," kata Anjum Hajat. "Efek polusi udara pada kesehatan kardiovaskular dan penyakit paru-paru seperti asma sudah lama diketahui, namun efeknya terhadap kesehatan otak ini merupakan hal yang baru."

Lingkungan di mana seseorang tinggal bisa membuat perbedaan besar terhadap kesehatan dan kualitas hidup penghuninya. Para peneliti telah mengidentifikasi "faktor penentu sosial" kesehatan fisik dan mental, seperti makanan sehat yang bisa didapatkan dari pedagang lokal (di sekitar tempat tinggalnya), akses terhadap lingkungan alami, dan keamanan lingkungan.  Polusi udara juga memiliki kaitan dengan perubahan perilaku, misalnya: orang yang tinggal di daerah dengan polusi udara tinggi cenderung menghabiskan sedikit waktu di luar rumah, atau menjalani gaya hidup yang statis, tidak berpindah-pindah. Hal-hal tersebut dapat dikaitkan dengan tekanan psikologis atau isolasi sosial yang mereka alami.

Penelitian ini berusaha mencari hubungan langsung antara polusi udara dan kesehatan mental, dengan 6.000 responden yang juga merupakan responden dari Studi Panel tentang Dinamika Pendapatan (yang dilakukan secara longitudinal dan berskala nasional). Peneliti kemudian menggabungkan database pencemaran udara dengan data mengenai kondisi lingkungan dari 6.000 responden tersebut. Perhatian mereka dipusatkan pada pengukuran partikel halus, yakni material yang diproduksi oleh mesin mobil, perapian, dan tungku berbahan bakar kayu, serta pembangkit listrik bertenaga batu bara atau gas alam.

Partikel halus (partikel berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer) mudah dihirup, dapat diserap ke dalam aliran darah dan dianggap memiliki risiko lebih besar terhadap kesehatan daripada partikel yang lebih besar (untuk menggambarkan seberapa kecil partikel halus tersebut, bandingkan dengan rambut manusia yang rata-rata berdiameter 70 mikrometer).  Menurut Badan Perlindungan Lingkungan AS, standar untuk partikulat halus yang dianggap aman adalah 12 mikrogram per meter kubik. Antara tahun 1999 dan 2011, para responden tinggal di lingkungan dengan partikel halus berukuran mulai 2,16 sampai 24,23 mikrogram per meter kubik, dengan nilai rata-rata 11,34 mikrogram.

Pertanyaan yang diajukan kepada responden mencakup perasaan sedih, gugup, putus asa, dan sejenisnya, yang dialami responden, dan dinilai dengan skala yang merepresentasikan tekanan psikologis.

Tim peneliti menemukan bahwa risiko tekanan psikologis meningkat seiring dengan jumlah partikel halus di udara. Misalnya, di daerah dengan tingkat polusi tinggi (21 mikrogram per meter kubik), skor tekanan psikologis 17 persen lebih tinggi daripada di daerah dengan tingkat polusi rendah (5 mikrogram per meter kubik). Temuan lainnya adalah: setiap peningkatan polusi sebesar 5 mikrogram per meter kubik memiliki efek yang sama dengan berkurangnya pendidikan selama 1,5 tahun. Peneliti juga mempertimbangkan faktor fisik, perilaku dan sosioekonomi lainnya dari responden yang dapat mempengaruhi kesehatan mental, seperti kondisi kesehatan yang kronis, status pekerjaan (bekerja atau menganggur), serta perilaku minum alkohol dalam jumlah berlebihan.

Ketika data dipecah berdasarkan ras dan jenis kelamin responden, pria kulit hitam dan wanita kulit putih menunjukkan korelasi yang paling signifikan antara polusi udara dan tekanan psikologis; misalnya: tekanan yang dirasakan oleh pria kulit hitam di daerah dengan polusi tinggi 34 persen lebih besar daripada pria kulit putih, dan 55 persen lebih besar daripada pria keturunan Latino. Sedangkan di kalangan wanita kulit putih, terlihat adanya kenaikan tekanan yang substansial, yakni 39 persen, ketika terjadi peningkatan polusi.

"Dalam proses penelitian, muncul beberapa pola yang mengarah kepada kebutuhan penelitian lanjutan. Bagaimana polusi udara berdampak pada kesehatan mental terutama di golongan populasi tertentu memang berada di luar cakupan penelitian ini, dan justru itulah sebabnya mengapa perlu dilakukan studi lanjutan. Masyarakat Amerika tersegregasi dan terbagi ke dalam strata-strata tertentu, sehingga menambah berat beban mental yang dialami oleh kelompok populasi tertentu, padahal polusi dalam tingkat sedang saja sudah cukup mengganggu kesehatan," jelas peneliti utama Victoria Sass. 

Bagaimanapun juga polusi udara (yang sebenarnya sudah menurun levelnya di AS) merupakan masalah dalam kesehatan yang bisa diantisipasi, solusinya cukup jelas, dan dapat ditindaklanjuti asalkan ada political will yang jelas untuk menegakkan peraturan tentang kualitas udara, demikian pendapat tim peneliti.

---

(dirangkum dari: ENNUW News | sumber gambar lain: BBC & pixabay)